Pengendalian Tungau dg BeauveriaBassiana

PROSPEK PEMANFAATAN Beauveria bassiana DALAM PENGENDALIAN
HAMA TUNGAU

Jamur entomopatogen B. bassiana memproduksi Beauvericin yang mengakibatkan gangguan pada fungsi hemolimfa dan inti sel serangga inang. Seperti umumnya jamur, B.bassiana menginfeksi serangga inang melalui
kontak fisik, yaitu dengan menempelkan konidia pada integumen. Perkecambahan konidia terjadi dalam 1-2 hari kemudian dan menumbuhkan miselianya di dalam tubuh inang. Serangga yang terinfeksi biasanya akan berhenti makan sehingga menyebabkan imunitasnya menurun, 3- 5 hari kemudian mati dengan ditandai adanya pertumbuhan konidia pada integumen. Berkembangnya pengendalian secara biologi memberikan fenomena yang menarik dalam pemanfaatan B. bassiana untuk pengendalian hama tungau. Pena et al. (1996)
menguji potensi pengendalian tiga spesies jamur entomopatogen, yaitu B. bassiana, H. thompsonii dan P. fumosoroseus terhadap tungau P. latus.
Hasilnya menunjukkan bahwa B. bassiana memiliki kemampuan membunuh tungau lebih banyak dibanding jamur lainnya. Sedangkan H. thompsonii dan P. fumosoroseus membunuh tungau lebih cepat (2-6 hari)  dibanding B. bassiana (> 6 hari).
Hasil penelitian di rumah kaca menunjukkan bahwa patogenisitas dari 5 spesies jamur entomopatogen, B.bassiana paling efektif menekan populasi T. urticae. Selain itu, kombinasi antara satu kali penyemprotan B. bassiana dan predator Phytoseiulus persimilis dan satu jenis akarisida (fenbutatin oksida) dapat menekan populasi telur, nimfa, dan imago tungau hingga 98% (Chandler et al., 2005a). De Faria dan Wraight (2007) menyatakan bahwa pemanfaatan B. bassiana sebagai kombinasi bio-akarisida efektif membunuh inang hingga 33,9%, lebih banyak dibanding jamur lainnya, seperti Isaria fumorosea (5,8%) dan Beauveria brongniartii (4,1%) (DeOliveira and Neves, 2004).
B. bassiana juga efektif sebagai ovisida, seperti yang diungkapkan oleh Shi dan Feng (2005) bahwa  perlakuan B. bassiana strain SG8702 pada telur T. cinnabarinus mengakibatkan sebagian besar telur tidak menetas. Kemampuan B. bassiana mengendalikan seluruh stadia perkembangan tungau menunjukkan bahwa
jamur ini mempunyai prospek cukup baik sebagai pengendali hama tungau. Pada pengendalian P. latus yang menyerang tanaman cabe dengan tiga spesies jamur sekaligus, yaitu: B. bassiana, M. anisopliae, dan P. fumosoroseus menunjukkan bahwa kombinasi B. bassiana dan P.
fumosoroseus menekan secara nyata populasi tungau ini sehingga sekitar 93,3% cabang tanaman dapat diselamatkan untuk berproduksi (Ihsan and Ibrahim, 2007).
Keberhasilan pengendalian tungau P. latus dengan B. bassiana pada cabe barangkali dapat diikuti oleh tanaman jarak pagar yang juga diserang oleh spesies tungau yang sama.
Pengembangan B.bassiana untuk hama tungau tanaman jarak pagar tampaknya cukup menawarkan tantangan, karena populasi hama ini muncul bersamaan dengan dimulainya musim kemarau yang kondisinya kurang tepat bagi perkembangan jamur-jamur entomopatogen.
Namun demikian, ketidaksesuaian periode perkembangan tersebut mungkin dapat diatasi oleh infeksi dari deposit konidia B. bassiana di dalam tanah yang berasal dari penyemprotan saat musim penghujan. Sebab tanah adalah habitat utama entomopatogen, termasuk B. bassiana. Konidia B. bassiana mampu bertahan
hidup di dalam tanah dalam kurun waktu cukup lama dan akan menjadi inokulum sumber infeksinbagi generasi inang berikutnya.

Untuk hasil penelitian selanjutnya, bisa anda download melalui sumber resminya di :http://perkebunan.litbang.deptan.go.id/wp-content/uploads/2010/04/perkebunan_perspektif-8-2-2009_1_deci3.pdf

0 Response to "Pengendalian Tungau dg BeauveriaBassiana"

Posting Komentar

nurharyono.com